Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah taman pembelajaran. Setiap proses yang terjadi dalam hidup adalah sebuah ilmu yang patut dijalani, disyukuri, dan diterima dengan lapang dada. Termasuk mungkin salah satunya fase kegagalan...
Kegagalan adalah fase nyata yang terjadi dalam hidup. Ini adalah kenyataan pahit sekaligus getir yang sama sekali tak bisa diabaikan, tak bisa disembunyikan, dan harus dijalani.
Tapi di atas semua itu. senjata yang terpenting untuk menghidupi kenyataan pahit ini hanyalah dengan terus berusaha diiringi rasa pasrah dan berharap jalan terbaik yang dimaktubkan Allah.
Satu hal yang terpenting lainnya adalah pentingnya untuk percaya dan selalu berprasangka baik pada Allah. percayalah bahwa dibalik kesedihan ini Allah pasti telah menyiapkan sebuah takdir kebahagiaan yang ada dibalik sana.
Sesungguhnya Allah maha Tahu, maha Bijak. Allah sudah berjanji, bahwa tidak ada beban seberat apapun, yang tidak bisa ditanggung oleh hamba-hamba yang taat kepada-Nya.
Rabu, 20 Agustus 2014
Apakah?
Dalam sebuah titik teraman dalam hidup, kita temukan teman-teman. beraneka ragam, beraneka macam. namun hidup tak selamanya berada dalam zona aman, ketika kita diposisikan berada dalam sebuah roda dimana roda itu kita katakan "dibawah", "rendah", "tak terjamah" kita akan tahu... siapakah teman yg benar-benar teman bagi kita. bagi kita...
Gagal berkali-kali memang menyedihkan, tapi Apakah kegagalan untuk ditertawakan?
Sedih karena merasa bodoh mungkin manusiawi, sesal teramat, tapi Apakah hal itu untuk dihujat?
Miskin atau terkutip tak sekaya mereka memang kondisi, tapi Apakah untuk dicaci?
Apakah untuk dijauhi?
Apakah untuk ditinggalkan?
Apakah untuk diledek?
Apakah untuk dianggap rendah???
Sungguh, Allah sebaik-baiknya penilai, sebaik-baiknya penyayang diantara para penyayang, maha besar Allah tuhan semesta alam, tak lupakah akan asma itu? segala hal yg menimpa seseorang yang gagal bukanlah terbilang hukuman, melainkan sebuah ujian. ya, ujian untuk hamba-Nya yang shaleh. tetap istiqomah, saat tangan kaki jiwa raga dan hati terlalu lelah tuk bekerja lagi, biarkan tangan Allah yang turun tangan merealisasikan mimpi. semoga kita semua tetap selalu berada dijalan-Nya...
Gagal berkali-kali memang menyedihkan, tapi Apakah kegagalan untuk ditertawakan?
Sedih karena merasa bodoh mungkin manusiawi, sesal teramat, tapi Apakah hal itu untuk dihujat?
Miskin atau terkutip tak sekaya mereka memang kondisi, tapi Apakah untuk dicaci?
Apakah untuk dijauhi?
Apakah untuk ditinggalkan?
Apakah untuk diledek?
Apakah untuk dianggap rendah???
Sungguh, Allah sebaik-baiknya penilai, sebaik-baiknya penyayang diantara para penyayang, maha besar Allah tuhan semesta alam, tak lupakah akan asma itu? segala hal yg menimpa seseorang yang gagal bukanlah terbilang hukuman, melainkan sebuah ujian. ya, ujian untuk hamba-Nya yang shaleh. tetap istiqomah, saat tangan kaki jiwa raga dan hati terlalu lelah tuk bekerja lagi, biarkan tangan Allah yang turun tangan merealisasikan mimpi. semoga kita semua tetap selalu berada dijalan-Nya...
Hidup besserta segudang penilaian orang
Hidup tidak pernah terlepas dari penilaian orang
lain. Baik buruknya, kita yang tentukan, segala sautan penilaian orang itu ada
ditangan kita. Hidup rangkaian proses pelatihan, pelatihan secerdas apa kita
bisa menyikapi segalanya.
Namanya penilaian. Ada A, B, C, D, dsb. Dari 10 hingga 100. Dari baik, standar, hingga buruk. Itu bukan hal yang mengkhawatirkan. Percayalah. Syukuri jika itu bermanfaat, jadikan cerminan utk memperbaiki diri jika itu menyakitkan. Namun jika sudah terlalu menyakitkan; ada pepatah… seseorang berhak berbicara, dan kita Pun berhak utk tidak mendengarkan. Allah swt bersama orang sabar. Percayalah. Percayalah...
Namanya penilaian. Ada A, B, C, D, dsb. Dari 10 hingga 100. Dari baik, standar, hingga buruk. Itu bukan hal yang mengkhawatirkan. Percayalah. Syukuri jika itu bermanfaat, jadikan cerminan utk memperbaiki diri jika itu menyakitkan. Namun jika sudah terlalu menyakitkan; ada pepatah… seseorang berhak berbicara, dan kita Pun berhak utk tidak mendengarkan. Allah swt bersama orang sabar. Percayalah. Percayalah...
Pacaran dalam pandangan Islam (inspired by; mamah)
Islammengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketikaseseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa.Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
“Dijadikanindah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulahkesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yangbaik .”(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islammenganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yangbaik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau ituadalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintaiwanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan carayang paling baik.
Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang palingbaik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya(istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.
B . Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal
Namundalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkanmanakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanyaikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsusyahwat dan ketertarikan sesaat.
Sebab cinta dalam pandanganIslam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkanatau digoreskan di atas kertas suratcinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dansejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataantanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.
Bahkanlebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan,melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yangbertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikanwanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupiseluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`.Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atasbahunya.
Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu`the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorangwnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seoranglaki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-lakiiseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapitidak siap menjadi the real man.
Dalam Islam, hanya hubungansuami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yangmengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan jugaseks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semuaitu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi).Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapihampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yangdulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpanganbesar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernahterdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yangmenyerampet kesana.
Sedangkan pemandangan yang lihat dimanaada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan,ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dariagama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islamyang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapimasyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.
Bara tyang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme danpermisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi jugapada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satusudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini jugaterjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.
C. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran,sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalahmedia untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejatitidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu disuatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS,chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.
Semuabentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yangterjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak adaikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatantanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentangkesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu memiliki,tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam formatpacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekalibahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.
D. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk salingmelakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara keduacalon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itutidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yangdiperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
Dalam formatmencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelastentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda RasulullahSAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairahra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal :[1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya.Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari KitabunNikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ BabIstihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempatkriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasanganhidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkindiceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini,peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.
Inilahproses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaatdan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasanganyang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja.Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up,berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahalnantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
Istritidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusanaterbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaantanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlahtempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikahmereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasanaromantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itutidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka.Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur,sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.
Dan tidakheran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segeramengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahalmereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitunganhari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Sumber : Pusat Konsultasi syariah
"Pacaran"adalah suatu kata yang tidak asing lagi kita dengar di kalangan remaja.Sebetulnya apa yang disebut dengan "pacaran" itu? Betulkah di dalamIslam ada yang namanya pacaran?
Pacaran diidentifikasikansebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar salingmenyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas daridefinisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakansuatu yang wajar dilakukan dikalangan remaja. Padahal apabila kitatinjau dari sudut agama Islam, dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits ternyatatidak ada satu kalimatpun yang menjelaskan tentang pacaran.
DalamIslam hanya ada khitbah (tunangan). Tapi khan tidak mungkin kitatunangan tanpa mengenal pribadi calon kita?. Tidak seperti itu, sebelumterjadi khitbah, di dalam Islam dianjurkan untuk berta'aruf(berkenalan) itupun kalau seandainya kita siap untuk nikah. Sebenarnyarugi kalau seandainya pacar kita itu bukan jodoh yang Allah SWTtakdirkan untuk kita. Padahal kita sudah berkorban.
Islamsesungguhnya agama kasih sayang, sangat tidak adil jika kita memberikankasih sayang itu kepada seseorang saja. Padahal umat Islam itubersaudara, Firman Allah dalam QS Al-Hujurat : 10, "Sesungguhnyaorang-orang mukmin itu bersaudara". Bagaimana kita bersaudara dalamIslam?
Saling bersilaturahmi, karena dengan bersilaturahmi dapat menumbuhkan rasa kasih sayang.Saling bertausyiah, karena ketika kita lupa kita diingatkan, dan ketika orang lain lupa kita mengingatkan.Saling mendo'akan. Jadikita harus memberikan kasih sayang kepada seluruh umat Islam di duniaini, bukan hanya kepada seseorang dan kelompok tertentu saja.
Untukitu, marilah kita sama-sama untuk menghindari yang namanya pacaran itu.Karena kasih sayang tidak harus diungkapkan kepada seseorang saja,tetapi kepada siapa saja. Apabila kita melakukan suatu perbuatan yangdilarang oleh agama, maka kita akan berdosa. Begitu juga pacaran,apabila kita melakukan apa yang disebut dengan pacaran, maka kita akanberdosa pula. Na'udzubillaahi min dzalik.
Oleh karena itu, hendaklah kita :
Menundukan pandangan. "FirmanAllah dalam QS An-Nuur : 31 mewajibkan kita untuk menundukkanpandangan. Sabda Rasul : "Pandangan itu merupakan salah satu panahiblis."
Jangan berduaan dengan lawan jenis. "Janganlah kamu pergi berduaan dengan lawan jenismu, sebab yang ketiganya adalah setan."
Memperbanyak shaum sunat Hal ini dimaksudkan agar kita selalu dapat menjaga pandangan dan menahan hawa nafsu.
Cobalahtiada lain suatu amalan yang dicintai Allah, sesungguhnya Allah akanjauh lebih mencintai kita. Carilah amalan yang disukai Allah, setelahkita tahu bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, cobalahuntuk membatasi diri dalam hal itu. Ingatlah bahwa jangankanberpacaran, mendekatinya saja kita sudah tidak boleh. Firman Allah"Janganlah kamu dekati zina".
Kita tidak bisa menjaga pandangandari yang tidak halal berarti kita sudah zina mata. Begitupun denganpendengaran, pembicaraan, hati, bila tidak kita jaga dari perbuatanyang mendekati zina, berarti kita sudah berzina. Na�udzubillaahi mindzalik.
dari mediakita.cjb.net
Mustahilkah Ada Pacaran yang Islami?
Banyakorang menduga, ‘pacaran islami’ “nggak ada dalam kamus ajaran Islam.”(JNC: 72) Tidak sedikit yang mengira, “pacaran sudah jelas bukan dariIslam, sehingga mustahil ada pacaran Islami.” (PIA: 24) “Jangan sampaikalau yang melakukannya ‘ngerti’ agama, maksudnya mereka yangberkecimpung di pengajian, lalu itu bisa disebut dengan pacaranislami.” (JNC: 75) Adayang menyatakan, kemustahilan itu lantaran tidak abadinya cinta dantidak jelasnya definisi dan ikatan pacaran. (Lihat KHP: 6.) “Jadi, darimana kok bisa bilang ada istilah pacaran islami?” (JNC: 71) Bab 2 iniikhtiar pengungkapannya.
Ternyata Cinta Tidak Mustahil Abadi
Salahsatu alasan utama penghujat ‘pacaran islami’ adalah seruan: “Oiii ...Ternyata Cinta tuh, Nggak Abadi!” (KHP: 130). Benarkah seruan ini? Marikita periksa.
KHP mendasarkan seruannya itu pada pernyataanantropolog Helen Fischer bahwa “kasus-kasus perceraian muncul ketikatelah mencapai empat tahun masa perkawinan” dan “kalaupun bertahan,pasti karena faktor-faktor lain” di luar cinta (KHP: 132). Mengapahanya empat tahun masa perkawinan? Menurut teori Fischer (Four Years Itch), itu karena bekerjanya sejumlah hormon yang diproduksi di otak selama orang jatuh cinta hanya empat tahun (KHP: 132).
Layakkahteori itu untuk dijadikan sandaran? Dalam pengamatan saya, penyandarantersebut sesat-pikir lantaran ‘bersandar pada otoritas’ yang tidaktepat. (Lihat JSP: 12-13.) Lain halnya bila yang dirujuk ialahpakarnya: psikolog atau dokter yang berkecimpung di bidang hormon.Sekalipun begitu, mungkin masih ada manfaatnya bila kita periksateorinya. Sebab itu, marilah kita asumsikan bahwa Helen Fischer memangahli di bidang hormon.
Menurut teori Four Years Itchitu, hormon pemicu gelora cinta cuma bertahan sekitar empat tahun,setelah itu tak berbekas lagi. Karenanya, KHP menyimpulkan denganmemakai hitung-hitungan, “misalnya, orang yang pacarannya sudah tigatahun, berarti kan [gelora cintanya] cuma bisa bertahan setahun setelah menikah, hehehe...” (KHP: 132)
Akantetapi, kita bisa bertanya-tanya: Benarkah teori tersebut? Kalau iya,mengapa daya tahan hormon penggelora itu empat tahun saja? Apakah sudahmerupakan ‘kodrat biologis’ yang berlaku universal sepanjang masa?Mungkinkah karena itu pria yang berpoligami cenderung lebih mencintaiistri-baru daripada istri-lama? Dan yang bermonogami tergoda untukberselingkuh? Ataukah karena penghayatan interaksi dengan lawan-jenissecara ‘modern’ lah penyebab sang hormon berumur pendek? Bukankah angkaempat tahun itu hanya data statistik dari penelitian terhadap sekianorang di zaman modern ini?
Pertanyaan utama kita: Apakah teori four years itch itu berlaku pula pada gelora cinta Muhammad Rasulullah saw. kepada istri-istri beliau? Mari kita periksa melalui hadits-hadits.
Aisyahr.a. berkata: “Tidak ada rasa cemburuku terhadap salah seorang dariistri-istri Nabi saw. yang melebihi rasa cemburuku terhadap Khadijah,padahal aku tidak pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, [rasacemburuku itu timbul] karena Nabi saw. sering menyebut-nyebut dia. ...”(HR Bukhari dan Muslim) Dari Aisyah r.a., dia berkata: “... aku berkata[kepada Rasulullah saw.]: ‘Apa yang membuatmu selalu teringat kepadasalah seorang nenek dari nenek-nenek kabilah Quraisy itu? Dia sudah tuarenta dan telah habis ditelan masa [karena telah lama meninggal dunia].Bukankah Allah sudah memberimu pengganti yang lebih baik daripadadia?’” (HR Bukhari dan Muslim. Dan dalam satu hadits riwayat Ahmaddisebutkan, Rasulullah saw. menjawab: “Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik daripada dia.” [FBSSB8: 141])
Hadits-haditsitu mengisyaratkan, rasa cinta Rasulullah saw. kepada istri pertama,yaitu Khadijah r.a., tetap bergelora walau sudah berlangsungberpuluh-puluh tahun, bahkan kendati dia sudah wafat dan Nabi saw.telah menikah lagi. Gelora tersebut tampaknya begitu besar,sampai-sampai istri lain yang masih hidup sangat cemburu.
Apakah abadinya cinta beliau itu khusus bagi Khadijah r.a.? Mari kita tengok dua hadits shahih lainnya:
Aisyahr.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw., ketika sakit yang membawa beliauajal, bertanya: “Di mana aku besok, di mana aku besok?” Yang beliaumaksud adalah hari giliran Aisyah. Lalu istri-istri beliau memberi izinkepada beliau untuk tinggal di mana saja yang beliau inginkan. Ternyatabeliau memilih rumah Aisyah sampai beliau meninggal. (HR Bukhari danMuslim) Sebelum itu, Aisyah r.a. pernah berkata: “Kaum muslimin padasaat ini sudah mengetahui betapa cintanya Rasulullah saw. kepadaAisyah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sewaktu menghadapi sakaratul-maut itu, sudah berapa lama Rasulullah saw. menikah dengan Aisyah r.a.? Dalam kitab Fathul Bari,jilid 8, disebutkan bahwa Nabi saw. wafat ketika Aisyah berusiadelapanbelas tahun (KW1: 187). Adapun Aisyah r.a. berkata: “Nabi saw.menikahiku ketika aku masih berusia enam tahun. ... [walau] ibukumenyerahkan aku kepada beliau ketika aku baru berusia sembilan tahun.”(HR Bukhari dan Muslim) Jadi, ketika itu Aisyah r.a. telah menikahdengan beliau selama duabelas tahun.
Jika teori Four Years Itch berlaku pada diri beliau, dan dengan asumsi bahwarasa cinta beliau dimulai pada saat nikah, maka tentunya yang palingdicintai beliau pada akhir hayat itu adalah istri terbaru yang belumsampai empat tahun beliau nikahi. Namun, hadits-hadits tersebutmengisyaratkan, yang paling beliau cintai (nomor dua sesudah Khadijahr.a.) justru istri ‘terlama’ (di antara yang masih hidup) yang telahbeliau nikahi selama duabelas tahun!
Dengan demikian, terdapat indikasi bahwa Rasulullah saw. telah membuktikan, gelora asmaraitu bisa abadi, sekurang-kurangnya sampai akhir hayat, bukan hanyaempat tahun. Selain itu, tampaknya istri yang lebih dia cintai adalahyang lebih lama dan lebih akrab dalam berinteraksi dengan beliau. Kalaubegitu, bagaimana sebaiknya kita bersikap?
Jika Anda dan calonpasangan hidup Anda berkepribadian seperti orang-orang ‘modern’ yangmenjadi obyek riset Helen Fischer, dan merasa mustahil meniru polacinta Rasulullah saw. (terutama terhadap Khadijah r.a. dan Aisyahr.a.), maka mungkin tidak ada salahnya kalian pilih strategi “tidak adacinta sebelum nikah”. Dengan memulai asmara hanya pada saat ijab-qabul, kalian bisa mengharap gelora cinta yang maksimal selama empat tahun pertama pernikahan.
Akan tetapi, kalau kepribadian Anda dan calon pasangan hidup Anda tidak sepertiorang-orang ‘modern’ yang menjadi obyek riset Helen Fischer, dan kalianyakin bahwa pola cinta Rasulullah saw. terhadap lawan-jenis di zaman‘kuno’ itu bisa diterapkan di era ‘modern’ ini, maka bisa dimengertibila kalian optimis mampu memperpanjang ‘usia harapan hidup’ si hormonpenggelora asmara di tubuh kalian selama mungkin! Meskipun kalianpacaran selama empat tahun sebelum nikah, misalnya, insya’ Allah geloracinta kalian tidak akan padam pada saat ijab-qabul dan bahkan masa-masasesudahnya, hingga akhir hayat kalian berdua!
Aisha Chuang menegaskan, asmaraislami tak pernah merupakan akhir. Selalu ada kelanjutannya atauharapan bagi yang menjalaninya. Dengan kata lain, cinta sejatimerupakan proses yang idealnya berlangsung abadi. (NAI: 50)
Definisi ‘Pacaran’ Sangat Jelas
Disamping “tidak abadinya cinta”, alasan ‘kuat’ lain yang dijadikanandalan untuk mengklaim bahwa mustahil ada pacaran yang islami adalah“ketidakjelasan definisi pacaran”. Benarkah alasan ini kuat? Mari kitakritisi.
Sebagian penghujat ‘pacaran islami’ mendefinisikan,“Pacaran adalah aktivitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawanjenis.” (JNC: 58) Dalam pandangan saya, definisi tersebut sesat-pikirlantaran ‘terlalu sempit’ dan ‘membingungkan’. (Lihat JSP: 33-34.) Kata‘menumpahkan’ di situ membingungkan karena bersifat sangat konotatif.Selain itu, di situ hanya diungkap hubungan searah, padahal pacaranadalah aktivitas timbal-balik dua pihak. Jadi, jika definisi tersebutyang dipakai, tentu saja definisi ‘pacaran’ menjadi tidak jelas.
Sementara itu, walau mereka berargumen dengan ‘tidak jelasnya definisi pacaran’, ada kalanya mereka malah berusaha menjelaskan definisi‘pacaran’. Alasan mereka, “Supaya simpel dan kita nggak terjebak padadefinisi yang mengaburkan.” (KHP: 114) Mereka menerangkan: “Pacaranyang nggak jelas definisinya itu, sebenarnya cuma ekspresi ... perasaan‘suka’ pada lawan jenis, terus ditindaklanjuti dengan perilaku-perilakuyang dianggap romantis dan kemudian publik memberikan pengakuan si Apacaran dengan si B, si A pacarnya si B.” (KHP: 113) “Pokoknya yangnamanya pacaran tuh, hubungan laki-laki perempuan yang bukan muhrimdalam sebuah komitmen selain Nikah! Titik.” (KHP: 114)
Begitulahmereka berusaha menunjukkan definisi-definisi ‘pacaran’ yang ‘simpeldan tidak mengaburkan’. Padahal, mereka juga menyatakan bahwa definisi‘pacaran’ tidak jelas. Dengan begitu, saya pandang argumentasi tersebutsesat-pikir lantaran kontradiktif. Mengapa sampai kontradiktif danbagaimana mengatasinya? Mereka belum menjelaskannya di buku mereka itu.Titik?
“Sudahlah,” seru mereka. “Mendingan kita nggak usah cari-cari kesempatan untuk ikut bagian orang-orang yang menyuburkan aktivitas baku syahwat ini. Abis, nggak jelas, gitu!” (KHP: 114) Tampaknya, pada ‘pokoknya’, mereka mendefinisikan, “pacaran adalah aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Islam (haram).” (JNC: 71)
Namun,dalam pengamatan saya, definisi yang ‘pokok’ tersebut sesat-pikirlantaran ‘menetapkan aksiden’. (Aksiden merupakan sifat yang “dapat adadan dapat tidak ada”) (JSP: 16). Memang, aktivitas baku-syahwat di luarnikah dilarang oleh Islam. Tapi, apakah pacaran merupakan ‘aktivitasbaku-syahwat’? Belum tentu. Dalam pacaran, bisa ada aktivitasbaku-syahwat, bisa pula tidak ada aktivitas baku-syahwat!
Mungkinmereka bingung: “Kalau mau didefinisikan bahwa pacaran adalah prosesawal untuk saling mengenal sebelum menuju pernikahan, juga nggaksepenuhnya benar. ... Nggak semua orang, pacaran diniatin menikah, kan?”(KHP: 113) “Ketidakjelasan definisi pacaran juga terlihat padaketidakjelasan batasannya. Apakah dua orang yang saling suka danmengungkapkannya sudah bisa disebut pacaran, atau bahkan yang lebihdari itu masih juga disebut pacaran?” (KHP: 114)
Untukmenjawabnya, mari kita merujuk ke definisi yang dibakukan di buku KBBI,kamus resmi bahasa kita. Buku PIA mengungkap: “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.” (PIA: 19) “Sementara kencan sendirimenurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk salingbertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.”(PIA: 20)
Jika definisi-definisi baku tersebut kita satukan, maka rumusannya bisa terbaca dengan sangat jelas sebagai berikut: Pacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap.
Dengandemikian, pacaran yang aktivitasnya “lebih dari” bercintaan, misalnyaditambahi aktivitas baku-syahwat, itu pun masih dapat disebut ‘pacaran’(tetapi bukan ‘pacaran islami’)! Sedangkan, pada dua orang yang baru saling mengungkapkan cinta telah ada aktivitas bercintaan, tetapi belum ada hubungan yang ‘tetap’, sehingga belum tergolong pacaran.
Hubunganyang ‘tetap’ itu dapat tercipta dengan ikatan janji atau komitmen untukmenjalin kebersamaan berdasarkan cinta-kasih. Kebersamaan yangdisepakati itu bisa berujud apa saja. Dengan demikian, yang tidakdiniatkan untuk nikah masih bisa dinyatakan pacaran. Bahkan, ‘hidupbersama tanpa nikah’ pun bisa disebut ‘pacaran’ (tetapi bukan ‘pacaranislami’)!
Ikatan Pacaran Cukup Jelas
Dengan menganggapbahwa “cinta tidak abadi” dan “definisinya tidak jelas”,penghujat-penghujat itu pun berpikiran, “ikatan dalam pacaran tidakjelas.” Mereka mendakwa: “Pacaran hanyalah sebuah ekspresi sesaat bagiorang-orang yang mengaku saling jatuh cinta.” (KHP: 146) “Kata pacarsendiri,” kata mereka, “berasal dari nama sejenis tanaman hias yangcepat layu dan mudah disemaikan kembali. Tanaman ini tidak bernilaiekonomis (murahan) sehingga tidak diperjualbelikan. Hal ini sebagaisimbol bahwa pacaran adalah perilaku yang tidak bernilai. Jika suatuwaktu [tidak] puas dengan pacarnya, maka dia akan mudah beralih kepadapacarnya yang baru.” (PIA: 19) Mereka menambahkan: “Analogi pacar airmenunjukkan —pacar air yang jadi pemerah kuku— apabila telah usang danpudar warnanya, maka akan diganti dengan pacar yang baru. ... Kalaumasih merah dan menyenangkan, dipakai. Kalau sudah pudar danmenyebalkan atau bahkan mengotori, diganti.” (KHP: 143)
Akantetapi, analogi mereka tersebut saya pandang sesat-pikir lantaran‘tidak relevan’. Seharusnya, fakta yang menjadi dasar analogi itumemiliki persamaan yang asasi dengan kenyataan yangdianalogikan. Jika tidak, analogi itu akan “menghasilkan kesimpulanyang salah.” (JSP: 21) Pada analogi ‘pacar air’ tadi, mungkin merekabelum memperhatikan bahwa salah satu sifat asasi pacaran ialah adanyahubungan yang tetap.
Bolehjadi, tidak sedikitorang yang katanya pacaran tapi sering putus-sambung karena “ngerasabahwa ikatan itu belum paten.” (JNC: 170) Lantas penghujat-penghujatmendakwa, “Ikatan yang nggak jelas itulah yang akhirnya menimbulkankeengganan bertanggung jawab. Betul, nggak?” (KHP: 117) Nggak.“Bayangin,” sindir mereka, “kalau kita cuma jadi pacar. Kita dijadikanpacar oleh orang lain, terus abis gitu —karena [hanya] pacaran, kansah-sah saja kalau putus-sambung tho?” (KHP: 147) “Bukankah pacaranakhirnya ... menjadikan seseorang seperti piala bergilir. Iya, kan?” (KHP: 148) Tidak.
Kitatidak boleh memperlakukan teman-teman lain-jenis sebagai ‘pialabergilir’. Orang yang pacaran dengan maksud “putus-sambung”, makapacarannya ‘tidak sah’. Sebab, sekali lagi kami ingatkan, pada pacaranharus ada kekasih yang tetap.
Terus, “kalau seseorang yang semula ‘berniat’ cuma pacaran, kemudian ternyata ... si cewek pregnant by accident [hamil lantaran ‘kecelakaan’], gimana? Apa bisa disalahkan si cowoknya? Kan, niatnya pacaran? Bisa saja kan, si cowok merasa nggak masalah karena sampai seperti itu masih mereka anggap ‘pacaran’?” (KHP: 116) Tidak bisa!
Sicowok harus bertanggung jawab atas ‘kecelakaan’ itu. Jika Anda kira sicowok tidak dapat disalahkan “karena sampai seperti itu masih merekaanggap ‘pacaran’,” maka Anda sesat-pikir lantaran ‘lempar batu sembunyitangan’ dengan ‘berlindung pada prinsip umum’. (Lihat JSP: 3-4.)
Menurutprinsip umum, seperti yang disebut di pasal “Definisi” di atas, merekayang memakai ‘bumbu’ berupa zina itu masih dapat disebut ‘pacaran’.Namun, walau pacaran in itself tidak salah, zina itu perbuatanyang salah! Kita dapat membandingkannya dengan aktivitas perdagangan,misalnya. Walau dilakukan dengan curang, kegiatan itu masih bisadisebut dagang. Tetapi, meski perdagangan itu sendiri pada dasarnyatidak zalim, curang itu perbuatan yang zalim! Jadi, jika Anda kira sipedagang yang curang tidak bersalah karena kendati curang ia masihtergolong berdagang, maka Anda sesat-pikir.
Mungkin merekapikir, “Pacaran hanyalah aktivitas penuh apologi (alasan) dan ikatantanpa konsekuensi yang jelas.” (KHP: 128) “Ikatan pacaran tuh,” katamereka, “sama sekali nggak jelas, baik dari sisi syar’i maupun ikatansosial dan hukum.” (KHP: 115) Benarkah?
Dipandang dari sisi hukum, komitmen pranikah itu saya lihat ikatannya cukup jelas. Adaundang-undang tertulis yang menetapkan konsekuensi bagi orang yangmelanggar janji, menipu, dll. Melanggar janji kesetiaan atau pun menipupacar tidaklah bebas dari tuntutan hukum. Pihak yang merasa dirugikanberhak memperkarakan.
Dari sisi sosial, saya lihat ikatan pranikah itu cukup jelas juga, meski tidak sejelas pernikahan. Adanorma sosial tak tertulis yang mengatur ‘hak dan kewajiban untuk setia’bagi orang yang pacaran. Yang tetap setia kepada pacar memperolehpenghargaan sosial, sedangkan yang mengkhianati komitmen ini mendapatsanksi sosial.
Bagaimana dari sisi syar’i? Ada yang mengatakan, “ikatan yang legal dalam pandangan Islam itu hanya ada dua, yakni khitbah (pinangan) dan nikah.” (JNC: 150) Namun, dalam pengamatan saya, setiap perjanjian mengandung ikatan yang sah dan jelas. “Sungguh, setiap janji itu akan diminta pertanggungjawaban.” (al-Israa’ [17]: 34) (Lihat QTT1: 238 dan 704.) Ada ancaman berat, “Barangsiapa melanggar janjinya, maka akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri,” sedangkan kepada orang yang menepati janji, Allah memberi “pahala yang besar” (al-Fath [48]: 10).
Mungkin, jelasnya ikatan pacaran itu dipandang belum memadai. Adayang mendakwa: “Komitmen untuk ‘tetap setia’ dijamin nggak berlaku bagiorang yang pacaran.” (KHP: 117) “Bagaimana mungkin bisa yakin bahwaseseorang yang selama ini jalan bareng memiliki komitmen untuk tetapsetia, lha wong yang terjadi dari waktu ke waktu hanya sebatas salingcurhat dan saling take and give yang nggak jelas juntrungnya?” (KHP: 127-128) Bukan begitu!
Komitmen kesetiaan pacar kita itu bisa kita pegang. Mengapa? Karena kita bisa yakindia beriman kepada Al-Qur’an, menghargai norma sosial, taat hukum, danberwatak dapat-dipercaya. Lagipula, pacaran kita jelas juntrungnya,tidak hanya sebatas saling curhat. (Untuk contoh pacaran yang jelasjuntrungnya, lihat NAI dan BPI.)
Lantas, kalau pun ikatannyajelas, untuk apa pacaran? Bukankah itu “cuma bikin kita terbelenggupada sebuah ikatan-ikatan semu yang membuat kita tidak merdeka”? (KHP:117) Bukan begitu.
Di dalam ‘ikatan’ dengan lawan-jenis,menurut Deborah Tannen, terkandung ‘kompensasi’ yang berharga berupa‘keakraban’ yang ujung-ujungnya berimbas pada ‘rasa aman’ pula. (LihatRPWP: 25-55.) Jadi, jika Anda lebih membutuhkan kebebasan daripadakeakraban, boleh-boleh saja Anda tidak pacaran. Tapi, orang yangpacaran karena lebih memerlukan keakraban daripada kebebasan janganlahAnda cela!
Pacaran Itu Sunnah yang Direstui Nabi
Bolehjadi,di antara sekian banyak argumen, yang paling diandalkan untuk menghujat‘pacaran islami’ adalah sebagai berikut: “Islam sama sekali tidakmengenal pacaran.” (PIA: 41) “Pacaran bukan dari Islam, melainkanbudaya jahiliyah yang harus ditinggalkan oleh segenap remaja mudaIslam.” (PIA: 22) “Mestinya kita juga nggak meniru orang-orangjahiliyah dan budaya jahiliyah modern.” (KHP: 171)
Benarkah pacaran adalah budaya jahiliyah modern (dari Barat)? Mari kita periksa.
Di Bab 1, kita telah menyimak sindiran Rasulullah saw.: “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?”(HR ath-Thabrani) Mungkin Anda masih bertanya-tanya: Tidakkah yangdimarahi beliau dengan sindiran tajam itu hanya tindakan ‘menghukummati tawanan’, bukan perilaku ‘melecehkan aktivitas pacaran’? Untukmemastikannya, mari kita perhatikan asbabul wurud-nya, yaitulatar belakang atau penyebab diucapkannya sabda Rasul tersebut.Kebetulan, hadits selengkapnya telah mencantumkannya.
Dari IbnuAbbas r.a., ia berkata: Nabi saw. mengirim satu pasukan [shahabat],lalu mereka memperoleh rampasan perang yang di antaranya terdapatseorang tawanan laki-laki. [Sewaktu interogasi], ia berkata, “Akubukanlah bagian dari golongan mereka [yang memusuhi Nabi]. Aku hanyajatuh cinta kepada seorang perempuan, lalu aku mengikutinya. Makabiarlah aku memandang dia [dan bertemu dengannya], kemudian lakukanlahkepadaku apa yang kalian inginkan.” Lalu ia dipertemukan dengan seorangwanita [Hubaisy] yang tinggi berkulit coklat, lantas ia bersyairkepadanya, “Wahai dara Hubaisy! Terimalah daku selagi hayat dikandungbadanmu! Sudilah dikau kuikuti dan kutemui di suatu rumah mungil ataudi lembah sempit antara dua gunung! Tidak benarkah orang yang dilanda asmaraberjalan-jalan di kala senja, malam buta, dan siang bolong?” Perempuanitu menjawab, “Baiklah, kutebus dirimu.” Namun, mereka [para shahabatitu] membawa pria itu dan menebas lehernya. Lalu datanglah wanita itu,lantas ia jatuh di atasnya, dan menarik nafas sekali atau dua kali,kemudian meninggal dunia. Setelah mereka bertemu Rasulullah saw.,mereka informasikan hal itu [dengan antusias] kepada beliau, tetapiRasulullah saw. berkata [dengan sindiran tajam]: “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?” (HR ath-Thabrani dalam Majma’ az-Zawâid 6: 209)
Kita perhatikan, tema utama informasi yang disampaikan oleh para shahabat kepada Rasulullah sehingga beliau bersabda begitu adalah kisah hubungan asmaradi luar nikah. Saat itu barangkali mereka kira, perilaku pacaran itukemunkaran besar yang harus dicegah dengan ‘tangan’ (kekuatan) bilamampu, sedangkan kemampuan ini ada pada mereka selaku pemenangpertempuran. Mereka menghukum mati si lelaki, dan mungkin menyangkanyasebagai perbuatan baik demi mencegah kemunkaran besar. Namun,Rasulullah justru marah.
Sebaliknya, kata Abu Syuqqah, “beliau menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu”dan menyalahkan perbuatan shahabat. (KW5: 75) Ini menyiratkan,seharusnya si tawanan dibebaskan walau akibatnya kemudian ia melakukanpacaran dengan si dia. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa pacaran(bercintaan dengan kekasih-tetap) merupakan sunnah taqriri, kebiasaan yang direstui Nabi saw..
Sampaidi sini mungkin Anda masih penasaran: Manakah istilah ‘pacaran’ dalamhadits tersebut? Jawaban kita: Penyebutannya tidak langsung tersurat,tetapi tersirat.
Untuk sampai ke pengertian itu, kita mengacu pada unsur-unsur ‘pacaran’ yang baku: bercintaan dengan kekasih-tetap. Adakah aktivitas bercintaan di dalamnya? Ada.Ini ditunjukkan oleh ungkapan “Wahai dara Hubaisy, terimalah dakuselagi hayat dikandung badanmu!” dan “Baiklah...” Tampaknya, rasa cintaantara keduanya itu begitu mendalam. Sampai-sampai, si priamempertaruhkan nyawa untuk dapat bertemu dengan kekasihnya, sedangkansi wanita sampai jatuh dan meninggal dunia di atas jasad kekasihnya.Ini menunjukkan, aktivitas bercintaan itu terjadi antara sepasangkekasih yang tetap, bukan sekadar teman sesaat. Dengan demikian,unsur-unsur ‘pacaran’ yang baku sudah terkandung di dalam hadits tersebut. Jadi, tidaklah mustahil ada ‘pacaran’ (bercintaan dengan kekasih-tetap) yang islami!
Bagaimanadengan ‘kencan’? Aktivitas yang tidak harus ada (walau sering terdapatdalam pacaran) ini tampaknya terkandung pula di dalam haditsath-Thabrani tadi. Kita melihat, ada janji untuk “saling bertemu disuatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama”. Jadi, haditstersebut juga mengisyaratkan bahwa ‘kencan’ (saling bertemu di tempatdan waktu yang disepakati) antar lawan-jenis di luar nikah merupakan sunnah taqriri, kebiasaan yang direstui Nabi saw..
Bagaimanabila sesudah kita kemukakan hadits yang mengisyaratkan bahwa Rasulullahmenghalalkan ‘pacaran’ (bercintaan dengan kekasih-tetap),penghujat-penghujat ‘pacaran islami’ masih berpegang pada fatwa bahwa“pacaran selalu haram” dan “tidak ada pacaran dalam Islam”? Padahalmereka tidak mengemukakan nash yang mengharamkannya? Dalam keadaanbegitu, mungkin sebaiknya kita sampaikan ayat: “Dan tidaklah patutbagi laki-laki yang beriman dan tidak [pula] bagi perempuan yangberiman, bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan[hukum], akan ada bagi mereka pilihan [hukum lain] tentang urusanmereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhia sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzaab [33]: 36)
Selamatkan Hati
Terkadang, seseorang itu bukan menghindar dari rasa
sakit utk menyelamatkan hati. Beberapa diantara mereka menyelamatkan diri dari
luka dg cara membiasakan diri tanpa hal-hal yg membuat mereka terpuruk. Percaya
atau tidak, cara ini cukup baik utk mengobati luka. Meskipun keluar dri zona
aman tu bukan hal mudah, akan tetapi segalanya akan indah jika kita mencobanya.
Melakukannya…bukan terus tergubris, jatuh, lalu terpuruk dg hal yg sama.
Allah swt Pun tdk akan suka pd umatnya yg rela terus
terpuruk dalam keadaan sakit, apa lagi berkali-kali. Sungguh hal yg Bathil itu
jelas adanya, lantas tinggal Bagaimana cara kita menyikapinya?
Minggu, 27 April 2014
Sesederhana itu
Dulu, sempat menjalani sebuah hubungan dan sempat pula merasakan hal yg gak lazim. merasaka hal yg teramat sakit. bayangkan... ada dalam sebuah hubungan yg penuh ketimpangan. gimana gak sedih kalau keberadaan kita gak diketahui, atau bahkan gak dianggep. sempet jadi orang yg nyoba ada, tp dia seperti menganggapnya asing. teramat sering melihat keakraban dia sama wanita lain, tapi ada yg paling menurut saya sesak. ketika saya sedang menyiapkan sesuatu untuk hari istimewanya, justru saya malah liat dia nganterin pulang wanita lain, itu temannya... its fine... itu belum seberapa, waktu hari istimewa itu hampir dekat saya sempat mau kasiin apa yg saya buat itu langsung, tapi pada kenyataannya dia gak bisa nemuin saya, justru dia malah pergi ke sebuah tempat di luar kota, buat nemuin wanita yg ingin dia temuin, betapa mirisnya ketika sebuah usaha dihempaskan begitu saja. sejujurnya saya terbiasa, terbiasa bukan karena tiada rasa, melainkan terbiasa dengan sakitnya. belum lama ini juga saya sempat melihat hal bertubi-tubi dari mulai melihat dia ditempat makan bersama seseorang, waktu dia mengantar seseorang ke sekolah dengan alasan seseorang itu sakit dan katanya mau ulangan Fisika, tanpa dia tau bahwa saya yg melihat kejaian itu baru saja keluar dari RS... dan saya pun bertubi-tubi merasakan betapa sedihnya melihat conversation orang yang saya sayang bersama orang lain dg kata-kata dan emotion manis.
saya lelah? jangan ditanya, bahkan saya sempat pergi untuk mengobai luka saya sendiri, tapi saya tak pernah benar-benar berhasil, ketika saya beranjak pergi; saya tak pernah tega mengabaikan dia yg menghampiri, justru saya melihat sosoknya yg mulai memahami isetiap gerak-gerik kelelahan saya. tapi entahlah saya merasa ketidak-tegaan saya justru sering kali disepelekan. bagaimana luka ini mau berhasil sembuh! sewaktu luka itu mulai sembuh, justru dia ingatkan luka itu kembali dg cara memperlihatkan penampakan dirinya bersama wanita itu.
Tapi, entahlah saya tak pernah merasa bahwa diri saya tak pernah dipahami, justru saya merasa saya harus semakin memahami dia di setiap rasa sakit yg pernah saya rasakan. hingga akhirnya saya tersadar bahwa hal yang menurut saya menyakitkan dari setiap perilaku yang dia buat, itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk dia. karena saya terbiasa belajar memahami dia. bagi saya; dalam hidup, kita akan mengalami jatuh bangun, bangun lalu jatuh kembali. satu kali, dua kali, tiga kali, empat, lima, sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita telah lalui banyak hal dengan kuat :)
saya semakin ingin menjaganya, meskipun dalam keheningan, layaknya matahari yang menjaga bumi dengan jaraknya... saya menyayanginya dg bahagia selagi dia bahagia, bukan dengan luka. sesederhana itu.
saya lelah? jangan ditanya, bahkan saya sempat pergi untuk mengobai luka saya sendiri, tapi saya tak pernah benar-benar berhasil, ketika saya beranjak pergi; saya tak pernah tega mengabaikan dia yg menghampiri, justru saya melihat sosoknya yg mulai memahami isetiap gerak-gerik kelelahan saya. tapi entahlah saya merasa ketidak-tegaan saya justru sering kali disepelekan. bagaimana luka ini mau berhasil sembuh! sewaktu luka itu mulai sembuh, justru dia ingatkan luka itu kembali dg cara memperlihatkan penampakan dirinya bersama wanita itu.
Tapi, entahlah saya tak pernah merasa bahwa diri saya tak pernah dipahami, justru saya merasa saya harus semakin memahami dia di setiap rasa sakit yg pernah saya rasakan. hingga akhirnya saya tersadar bahwa hal yang menurut saya menyakitkan dari setiap perilaku yang dia buat, itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk dia. karena saya terbiasa belajar memahami dia. bagi saya; dalam hidup, kita akan mengalami jatuh bangun, bangun lalu jatuh kembali. satu kali, dua kali, tiga kali, empat, lima, sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita telah lalui banyak hal dengan kuat :)
saya semakin ingin menjaganya, meskipun dalam keheningan, layaknya matahari yang menjaga bumi dengan jaraknya... saya menyayanginya dg bahagia selagi dia bahagia, bukan dengan luka. sesederhana itu.
Sabtu, 08 Maret 2014
Hati bukan persinggahan...
Izinkan aku memberikan sebuah analogi lain tentang hati. ya hatimu.
baginya, hatimu adalah tempat wisata favoritnya. tempat wisata yang akan selalu berada di urutan pertama dalam daftar perjalanannya. berkali-kali sudah dan akan dia kunjungi. meski kadang kalah dengan tempat wisata baru bukan berarti dia melupakanmu.
baginya, hatimu adalah tempat wisata favoritnya. tempat yang akan selalu dia tuju ketika dia hampir mati kebosanan karena rutinitas. tempat yang akan dia tuju ketika dia membutuhkan ketenangan. tempat yang akan dia tuju ketika dia lelah akan hidup yang dijalaninya. tempat yang akan selalu dia datangi ketika tempat lain tidak aman baginya.
baginya, hatimu adalah tempat wisata favoritnya. kamu akan selalu istimewa meski tidak pernah ia miliki seutuhnya. kamu akan selalu istimewa meski banyak tempat telah dikunjunginya. kamu akan selalu istimewa baginya.
mungkin hatimu bukanlah hati kemana dia akan pulang dan tinggal menetap. mungkin hatimu bukanlah pelabuhan akhir setelah pelayaran panjangnya. namun hatimu adalah tempat wisata yang istimewa yang akan selalu ada dalam daftarnya untuk kembali dan menikmati keistimewaanmu.
kamu memang hanya tempat wisata favoritnya namun kamu tetap istimewa. jangan bersedih kamu akan selalu ada di urutan pertama daftar liburannya, dimana dia akan selalu meluangkan waktu untuk kembali di sela hidupnya. meski sejenak dia kembali namun baginya kamu terlampau istimewa.
ya kamu tempat wisata favorit baginya.
baginya, hatimu adalah tempat wisata favoritnya. tempat wisata yang akan selalu berada di urutan pertama dalam daftar perjalanannya. berkali-kali sudah dan akan dia kunjungi. meski kadang kalah dengan tempat wisata baru bukan berarti dia melupakanmu.
baginya, hatimu adalah tempat wisata favoritnya. tempat yang akan selalu dia tuju ketika dia hampir mati kebosanan karena rutinitas. tempat yang akan dia tuju ketika dia membutuhkan ketenangan. tempat yang akan dia tuju ketika dia lelah akan hidup yang dijalaninya. tempat yang akan selalu dia datangi ketika tempat lain tidak aman baginya.
baginya, hatimu adalah tempat wisata favoritnya. kamu akan selalu istimewa meski tidak pernah ia miliki seutuhnya. kamu akan selalu istimewa meski banyak tempat telah dikunjunginya. kamu akan selalu istimewa baginya.
mungkin hatimu bukanlah hati kemana dia akan pulang dan tinggal menetap. mungkin hatimu bukanlah pelabuhan akhir setelah pelayaran panjangnya. namun hatimu adalah tempat wisata yang istimewa yang akan selalu ada dalam daftarnya untuk kembali dan menikmati keistimewaanmu.
kamu memang hanya tempat wisata favoritnya namun kamu tetap istimewa. jangan bersedih kamu akan selalu ada di urutan pertama daftar liburannya, dimana dia akan selalu meluangkan waktu untuk kembali di sela hidupnya. meski sejenak dia kembali namun baginya kamu terlampau istimewa.
ya kamu tempat wisata favorit baginya.
Langganan:
Postingan (Atom)