Dulu, sempat menjalani sebuah hubungan dan sempat pula merasakan hal yg gak lazim. merasaka hal yg teramat sakit. bayangkan... ada dalam sebuah hubungan yg penuh ketimpangan. gimana gak sedih kalau keberadaan kita gak diketahui, atau bahkan gak dianggep. sempet jadi orang yg nyoba ada, tp dia seperti menganggapnya asing. teramat sering melihat keakraban dia sama wanita lain, tapi ada yg paling menurut saya sesak. ketika saya sedang menyiapkan sesuatu untuk hari istimewanya, justru saya malah liat dia nganterin pulang wanita lain, itu temannya... its fine... itu belum seberapa, waktu hari istimewa itu hampir dekat saya sempat mau kasiin apa yg saya buat itu langsung, tapi pada kenyataannya dia gak bisa nemuin saya, justru dia malah pergi ke sebuah tempat di luar kota, buat nemuin wanita yg ingin dia temuin, betapa mirisnya ketika sebuah usaha dihempaskan begitu saja. sejujurnya saya terbiasa, terbiasa bukan karena tiada rasa, melainkan terbiasa dengan sakitnya. belum lama ini juga saya sempat melihat hal bertubi-tubi dari mulai melihat dia ditempat makan bersama seseorang, waktu dia mengantar seseorang ke sekolah dengan alasan seseorang itu sakit dan katanya mau ulangan Fisika, tanpa dia tau bahwa saya yg melihat kejaian itu baru saja keluar dari RS... dan saya pun bertubi-tubi merasakan betapa sedihnya melihat conversation orang yang saya sayang bersama orang lain dg kata-kata dan emotion manis.
saya lelah? jangan ditanya, bahkan saya sempat pergi untuk mengobai luka saya sendiri, tapi saya tak pernah benar-benar berhasil, ketika saya beranjak pergi; saya tak pernah tega mengabaikan dia yg menghampiri, justru saya melihat sosoknya yg mulai memahami isetiap gerak-gerik kelelahan saya. tapi entahlah saya merasa ketidak-tegaan saya justru sering kali disepelekan. bagaimana luka ini mau berhasil sembuh! sewaktu luka itu mulai sembuh, justru dia ingatkan luka itu kembali dg cara memperlihatkan penampakan dirinya bersama wanita itu.
Tapi, entahlah saya tak pernah merasa bahwa diri saya tak pernah dipahami, justru saya merasa saya harus semakin memahami dia di setiap rasa sakit yg pernah saya rasakan. hingga akhirnya saya tersadar bahwa hal yang menurut saya menyakitkan dari setiap perilaku yang dia buat, itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk dia. karena saya terbiasa belajar memahami dia. bagi saya; dalam hidup, kita akan mengalami jatuh bangun, bangun lalu jatuh kembali. satu kali, dua kali, tiga kali, empat, lima, sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita telah lalui banyak hal dengan kuat :)
saya semakin ingin menjaganya, meskipun dalam keheningan, layaknya matahari yang menjaga bumi dengan jaraknya... saya menyayanginya dg bahagia selagi dia bahagia, bukan dengan luka. sesederhana itu.
Minggu, 27 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar